garuda

ri

Victoria University

PPIA


 

 


Call for Short Films and Animations Participants.

ANDRA FEBRIARTO

Sibodekada/Two Billion Desirables (21:23)

Ratio: 16:9

Panji Darman memiliki inferior complex yang parah. Dia merasa dirinya tidak sebaik orang-orang 'luar'. Ia mengidam-idamkan dirinya bisa seperti orang Eropa atau siapapun dari negara maju karena dia jijik dengan dirinya yang hitam, keriting dan pendek.

Ia menemukan jawaban dalam bentuk Adler, seseorang yang dapat membantu dirinya menjadi seperti orang 'luar'. Perasaan inferior inipun ia bawa sampai ia menjadi presiden dan membuat dirinya ingin membantai rakyatnya sendiri yang memang sukarela bunuh diri karena mereka juga merasa lebih jelek dari orang 'luar'.

Film ini merupakan interpretasi perasaan minder bangsa post-colonial. Meskipun perasaan tersebut seakan tertutupi oleh nasionalisme buta, inferior complex tersebut masih bersemayam dalam batin bangsa Indonesia. Lihat saja apa yang kita lihat di TV.

 

Jakarta 2012 (09:55)

Ratio: 4:3

Jakarta di tahun 2012 sudah terendam air akibat banjir yang tak kunjung surut. Lucunya masyarakat tidak merasa sengsara tapi malah senang dan sukses mengadaptasi pola hidup mereka dalam kota air ini. Dengan demikian pemerintah jadi tidak terbebani lagi. Dalam keadaan seperti itu film ini mengikuti cerita keluarga Enjeh yang terlihat damai dan bahagia meskipun mereka harus mencari kapal baru untuk menggantikan mobil antik mereka.

Inilah sindiran bagi budaya kita yang tak mau mengenal kemajuan atau kebiasaan rakyat yang lebih senang 'cengengesan' daripada memperbaiki sesuatu yang buruk.

 

Keragaman Kita (02:30) Ratio: 16:9

Keragaman kita adalah kekuatan kita. Film ini merupakan instropeksi diri atau sebuah ode tentang keadaan bangsa yang begitu penuh derita tapi penuh juga dengan keindahan yang beragam.

 

Randi Nizar (Monash University)

Sejarah Masa Depan

Bertolak belakang kepada kata-kata Bung Karno dalam pidato beliau yang terkenal dari tahun 1966, yaitu “Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah”, kita tidak dapat meremehkan betapa pentingnya sejarah dalam perkembangan suatu bangsa. Dengan menggunakan sejarah sebagai panduan, kita dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Dengan menjadikan sejarah sebagai pedoman, kita dapat mengambil keputusan-keputusan yang terbaik. Dan dengan menjadikan sejarah sebagai guru, kita dapat menggunakan paham-paham dan nilai-nilai tua yang masih relevan untuk membangun bangsa kita.


Bung Karno jugalah yang mengatakan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya”. Jasa mereka dan semua yang telah mereka perbuat untuk bangsanya harus terus dikenang dan tidak boleh dilupakan. Semangat mereka dan apa yang mereka perjuangkan tidak boleh dibiarkan mati, karena bahkan dalam era modern ini beberapa dari cita-cita mereka belum tercapai.


Film pendek ini akan mengeksplorasi apakah kedua nilai di atas masih dipegang oleh generasi penerus yang direpresentasikan oleh para mahasiswa. Film ini akan mencari tahu apakah para mahasiswa Indonesia di Australia masih mementingkan sejarah dan menghargai para pahlawannya, lebih tepatnya sejarah dan para pahlawan yang berkaitan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Bukan hanya karena Hari Kebangkitan Nasional akan dirayakan untuk ke-100 kalinya bulan Mei mendatang, tetapi juga karena semangat Hari Kebangkitan Nasional, yaitu semangat persatuan, sangat vital dalam masa mendatang yang akan dihadapi negara kita.

 

Go Indo! - short movie

Sebuah buah film pendek yang menceritakan kisah seorang mahasiswa yang baru dateng ke melbourne untuk studi. Dia juga ingin mencari suasana yang beda dengan Indonesia terutama kota Jakarta. Tapi apakah kota Melbourne seperti apa yang dia bayangkan?




Design by: Free Website Templates